‘Rambo’ Sang Pemimpin Yaki

Macaca Nigra

Hari masih pagi, sinar matahari menusuk malu-malu diantara dedaunan, menembus hingga hamparan daun yang jatuh ke tanah. Secara bersamaan, sebuah bayangan hitam meluncur turun diantara pepohonan, mendarat mulus di tanah, persis dimana sinar matahari pagi menyebar. Bayangan hitam tadi adalah Monyet. Bahasa setempat (atau umumnya orang Manado) menyebutnya Yaki.

SELAMA dua hari, Tim Ekspedisi NSPN, menelusuri kehidupan Yaki (Macaca Nigra), salah satu penghuni wilayah Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Tangkoko-Duasudara.

Areal ini, terbentang seluas kurang lebih 8.000 hektar, terletak di kecamatan Bitung Utara, kota Bitung, Sulawesi Utara. Hasil penelusurannya, disajikan disini

Yaki tadi, bukannya ilang jalang (kesasar) di pagi hari. Dia ”diutus” sang pemimpin, untuk memantau situasi di wilayah teritorial mereka mencari makan. ”Disini, terdapat dua kelompok yaki, dengan wilayahnya masing-masing. Kelompok pertama, kami sebut Malonda, dan kelompok kedua adalah yang dipimpin Rambo,” ujar Embo, Jagawana KSDA Tangkoko-Duasudara.

Menurutnya, kelompok Malonda sudah menurun drastis jumlahnya. Yang banyak berkeliaran sekarang adalah berasal dari kelompok Rambo, sekitar 40 hingga 60 ekor. Nah, si ’pemantau’ tadi, berasal dari kelompok Rambo. Setelah melihat keadaan aman, dengan satu teriakan ’sandi,’ bermunculan banyak Yaki di Pos 1. KSDA Tangkoko-Duasudara.

”Yang paling besar dan berjalan didepan, itu yang namanya Rambo. Disampingnya, ’asisten’ spesial pencicip makanan. Dia akan mencicipi makanan, sebelum Rambo memakannya,” tukas Embo lagi.

Dijelaskan, dalam setiap kelompok Yaki—termasuk grup Rambo—terdapat beberapa ekor dengan spesialis mereka masing-masing. Pengintai, pemantau dan pengamanan teritorial serta pencicip.

Sebagai seorang pemimpin, Rambo mendapatkan hak istimewa untuk pertama kali memakan temuan buah-buahan, tentunya setelah dicicipi si spesialis. Setelah Rambo, kaum betina dan bayi Yaki, mendapatkan kesempatan sesudahnya.

Hak istimewa Rambo mendapatkan makanan dan memilih jodoh, sebanding dengan tugasnya, ketika wilayah teritorial mereka didatangin kelompok lain. Rambo juga yang pertama berada digaris paling depan untuk menantang pemimpin kelompok ‘agresor’.

Terkadang, perkelahian antar sesama pimpinan kelompok ini, berakhir hingga tetes darah penghabisan. Yaki atau Macaca Nigra termasuk diantara monyet Sulawesi paling besar.

Berat badan Yaki berbeda antara Jantan dan Betina. Jantan dapat mencapai 11 kilogram, sedang betinanya hanya sekitar 7 kilogram. Bulu Yaki yang hitam legam dan mengkilap, kontras dengan bantalan kulit di pantat, berwarna merah muda, masyarakat setempat menyebut bantalan merah muda ini dengan lutok.

Penampilan mencolok lainnya dari Yaki, adalah gaya rambut seperti suku Indian Mohawk. Sebenarnya ini lebih tepat sebuah jambul, memanjang dari depan hingga ke pangkal batok kepalanya. Yaki umumnya hampir menghabiskan waktu beraktifitas mereka dengan mencari makanan.

”Tujuhpuluh persen makanan mereka adalah buah-buahan. Selain itu mereka juga makan serangga.” Yaki amat pintar meyimpan cadangan makanan mereka. Tempat penyimpanannya berada di kantong khusus dipipi. Selagi berjalan, mereka mengeluarkan makanan dari kantong tadi dan mengunyahnya.

Dalam buku, Sulawesi Utara, Sebuah Panduan Sejarah Alam, Margareth F. Kinnaird menulis, cara makan Yaki yang mengunyah sambil berjalan ini, berperan besar dalam regenerasi hutan dan pepohonan. Sebabnya, biji dari buah-buahan yang dikunyah, dibuang diareal hutan yang menjadi wilayah operasi mereka.

Kawanan Yaki biasanya berpindah-pindah sejauh 0,5 kilometer hingga empat kilometer setiap harinya. ”Sebelumnya, kawanan Yaki disini dapat mencapai seratus ekor per kelompok. Tapi, makin lama berkurang karena banyak pemburu liar, yang memanfaatkan daging mereka untuk dimakan atau dijual ke pasar,” ungkap para Jagawana.

Penelitian Margareth F. Kinnaird, menguatkan apa yang dikatakan para Jagawana. Menurutnya, KSDA Tangkoko-Duasudara, merupakan benteng pertahanan terakhir Yaki hitam spesies Macaca Nigra di Sulawesi Utara.

”Populasi Yaki di Tangkoko mengalami penurunan sekitar 75% sejak tahun 1979. Ini diakibatkan karena perburuan liar dan pengrusakan habitat mereka,” tulis Kinnaird.

Sayang, jika Macaca Nigra spesies langkah yang merupakan aset alam Sulawesi Utara, punah begitu saja. Mungkin nanti, para turis mancanegara tidak pernah akan melihat lagi Jambul di batok kepala dan Lutok dibagian pantat Yaki… [hery inyo rm]

http://northsulawesipressnetwork.blogspot.com/

Advertisements