Akbar Siaran Langsung di TVRI

Jakarta – Terkait pilpres 2009, media massa kian gencar menyoroti kandidat capres dan cawapres. Salah satu tokoh politik nasional yang jadi incaran adalah Akbar Tandjung. Politikus yang terkenal piawai dan mampu bertahan pada beberapa periode kepresidenan itu diwawancarai secara khusus oleh TVRI. Dipandu oleh penyiar Coreta Kapoyos, dalam program Informasi Seputar Parlemen, Rabu (07/04) pukul 17:30 WIB, Akbar menolak dikotomi calon pemimpin muda dan tua.

Coreta membuka pertanyaan soal maraknya iklan para tokoh nasional di media. Menanggapi hal tersebut Akbar menilainya sebagai hal yang wajar. “Sekarang sudah banyak iklan para tokoh di media massa,” katanya mencermati. Iklan tersebut akan bermanfaat menurut Akbar apabila mampu menyampaikan isi pikiran seorang tokoh. “Masyarakat baru mengenal sebatas wajah atau nama, belum mengenal pemikirannya,” ujarnya. Pengenalan pemikiran tersebut menjadi sangat penting karena dapat menjadi alasan dipilihnya seorang tokoh menjadi pemimpin.

Dalam konteks pilpres, lebih jauh Akbar mengatakan yang terpenting adalah bagaimana seorang calon pemimpin mampu menjelaskan visi dan misi kebangsaannya. “Seorang calon pemimpin harus bisa menyampaikan visi dan misinya terutama kepada rakyat yang akan dipimpinnya,” tegas mantan Ketua Umum DPP Partai Golkar ini. Dengan cara itulah kemudian rakyat akan melihat sejauh mana seseorang layak untuk dipilih.

Dikotomi Pemimpin Muda – Tua
Coreta melanjutkan pertanyaan mengenai trend kecenderungan terpilihnya kaum muda sebagai pemimpin pada pilkada, misalnya dalam pilkada Jawa Barat. “Jangan ada dikotomi antara calon pemimpin muda dan tua,” jawab Akbar. Dalam memilih pemimpin, baik tingkat daerah maupun nasional, tolok ukurnya bukan dari segi usia fisik. “Kriterianya yaitu kemampuan, keterampilan dan pengalaman,” jelasnya. Siapapun, menurut Akbar, tidak peduli tua atau muda asal memenuhi ketiga syarat tersebut maka layak dipilih menjadi pemimpin.

Soal masa kampanye pemilu legislatif yang memakan waktu sembilan bulan, Akbar mengingatkan agar energi bangsa tidak terkuras hanya untuk urusan kampanye dan pemilu. “Masih banyak persoalan bangsa yang lebih penting dan harus jadi prioritas,” ujar Ketua Dewan Pembina Barindo itu.

Coreta juga menanyakan soal calon incumbent yang akan lebih diuntungkan karena masih menjabat. Selama ini, ada kekhawatiran bahwa calon incumbent akan memanfaatkan fasilitas negara demi kepentingan politiknya. “Pengawasan harus maksimal,” tegas Akbar. Ia melanjutkan bahwa aturan main yang jelas dan tegas dalam UU Pilpres harus ditegakkan. Masyarakat juga diminta untuk melaporkan jika terjadi penyimpangan. “Sudah ada mekanisme yang berlaku untuk itu,” tuturnya.

Terakhir, Coreta menanyakan kesiapan Akbar untuk dicalonkan sebagai capres atau cawapres pada pilpres tahun 2009. “Saya akan melihat perkembangan politik terakhir,” ujar Akbar. Bagi mantan Ketua Umum PB HMI itu kepentingan rakyat harus menjadi tujuan akhir. “Semua untuk kepentingan rakyat,” tutup Akbar.

http://www.bangakbar.com (Jumat, 09 Mei 2008 10:04:04)

Advertisements