Deras hujan sore itu memaksa kami untuk menikmati jalan ibukota yang selalu macet. Tetapi kemacetan sore itu seakan bukan halangan bagi kami. Ada satu alasan kuat yang membuat kami tetap bertahan menembus kemacetan. Mobil kami arahkan ke suatu kawasan elit di daerah Jakarta Selatan, di sebuah lounge. Kencan kami sore itu disepakati disana. Di suatu tempat eksklusif, dimana para eksekutif banyak meluangkan waktu setelah seharian beraktifitas.

Memang perjuangan sore itu membuahkan hasil. Ketika memasuki lantai atas di lounge itu, sebuah senyuman hangat menyambut kami. Senyuman yang datang dari perempuan cantik yang kali ini kita pilih sebagai sosok leader nan exotic. Matanya berbinar ceria dari parasnya yang telah bersabar menunggu kedatangan kami. Paras itu seketika menghapus udara dingin yang menyerang tubuh.

coreta lightCoreta, demikian ia memperkenalkan diri. Ya, sebuah nama yang unik. Nama yang pas untuk pemilik raut wajah anggun dan menyajikan keramahan. Lesung pipitnya terukir jelita mengiringi senyumnya yang terkembang, anugerah dari dewa yang telah berbaik hati memberinya keindahan dan kecintaan. Dengan suaranya yang khas ia memaparkan sebagian dari cerita karir hidupnya.

Mengawali dunia broadcasting pada tahun 1988, Coreta kini adalah salah satu presenter dan penyiar senior di stasiun TVRI Nasional. Perempuan energik ini seakan tidak kenal lelah dan tidak ada istilah capek dalam kamus hidupnya. Bahkan, pada waktu kencan kami sore itu, perempuan cantik ini baru saja mendarat setelah 2 jam terbang dari Pekanbaru.

Memang, selain menjadi penyiar, Ia menghabiskan waktu senggangnya menerima permintaan menjadi presenter dibanyak tempat. Hampir sepertiga negeri ini seakan telah mengetahui kemampuan MC-nya. Si cantik ini dianugerahi kombinasi sempurna antara kecantikan, keanggunan dan kemampuan. Hmm, tidak heran bila banyak mata mencuri pandang kearahnya.

Sambil membenahi syal yang melingkar di leher jenjangnya yang putih memikat, ia meneruskan kisahnya. “Bergaul dengan orang-orang lain, adalah tantangan yang harus dihadapi dengan penuh semangat,”  begitu jelasnya ketika kami ingin tahu apa yang memotivasi dirinya sehingga selalu tampil energik.

“Kita hidup bersama orang-orang lain, kita bukan individu yang hidup untuk diri kita sendiri. Tetapi kita ada karena orang lain, maka kita perlu baktikan keberadaan kita untuk orang lain. Inilah yang membuat dunia ini indah.” Imbuhnya dengan mempertontonkan deretan giginya yang rapih dan terawat. Hmm, sebuah filosofi kehidupan yang pantas terucap dari bibir tipis yang menawan ini.

TVRI

“Coreta, apakah kamu termasuk golongan metropolis yang workaholic?” Sepertinya jika pertanyaan ini benar-benar kami lontarkan, akan membuat kami tampak konyol. Soalnya, ketika hampir saja kami lemparkan pertanyaan itu, perempuan elok ini sudah bergegas  bicara bahwa ia menjadi penuh gairah bila berhadapan dengan tantangan pekerjaan.

Tidak hanya presenter on air show, tetapi juga si cantik ini juga memiliki sebuah production house. Viseta production, atau Vispro, begitu sebutnya. Sembari mengerlingkan bola matanya yang bulat Coreta menjelaskan kalau ini adalah aktualisasi dari salah satu cita-citanya, yaitu kontribusi bagi anak bangsa dan negara ini melalui tayangan program-program televisi yang mendidik, bukan sekedar hiburan. Sebagai senior yang bergelut di dunia penyiaran, Coreta termasuk orang yang peduli akan kurangnya mutu edukasi penyiaran belakangan ini.

Dengan perannya di Production House (PH) ini, kemampuannya sebagai leader sangat diperlukan. Menurut perempuan kelahiran Minahasa ini, stereotype dimana pemimpin laki-laki lebih unggul daripada perempuan tidaklah sepaham dengannya. “Ya memang cara kerja laki-laki yang lebih sering menggunakan logika terkesan lebih kuat dibandingkan dengan cara wanita yang kerap kali lebih sering menggunakan perasaan, namun hal itulah yang tidak dimiliki oleh para pemimpin laki-laki bahwasanya dengan menggunakan perasaan maka para pemimpin wanita biasanya lebih bijak dalam mengambil sebuah keputusan dan lebih mudah dekat dengan tim kerjanya,” imbuhnya.

Apa yang membangkitkan hasratmu Coreta? Mengapa kamu tidak mudah lelah? Apa lagi yang ingin kamu reguk dalam kehidupan ini? ”Dunia pendidikan!” Perempuan cantik ini selalu bersemangat kalau bicara mengenai pendidikan. Dan hasrat Coreta semakin menguat ketika ia memperhatikan kualitas SDM anak bangsa Indonesia. Dalam pandangan umum, kebanyakan kualitas SDM bangsa ini memiliki pengetahuan terbatas ketika lulus sekolah sehingga susah diserap oleh dunia kerja. Itu barangkali yang juga menjadi concern Coreta. Maka tidak heran jika hasrat yang menggelora ini ia tuntaskan dengan profesinya yang lain yaitu sebagai pengajar di salah satu sekolah kepribadian John Robert Powers (JRP).

Baginya mengajar bukan sekedar hobby dan profesi yang menyenangkan. Tetapi bagi Coreta ini adalah sebuah pengabdian. “Dengan mengajar, saya dapat merasakan kepuasan. Ketika ilmu yang saya bagikan bermanfaat bagi orang lain, ketika anak didik menjadi lebih berkembang. Itulah yang utama.” ujar mantan Putri Kampus Sulawesi Utara tahun 1987 ini.

Coreta, bila kamu menggeluti dunia broadcasting, sebagai penyiar, sebagai MC, sebagai pemimpin production house, kemampuan apa yang setidaknya harus kamu kuasai? ”Yang utama adalah kemampuan komunikasi. Komunikasi adalah sebuah cara untuk menyelesaikan suatu masalah. Dan komunikasi adalah satu-satunya cara bagi setiap manusia untuk memberikan kontribusinya bagi kehidupan.” begitu katanya, sembari menekuk jari telunjuk dan jempolnya membentuk huruf C. Upps,  semoga ia tidak memergoki mata kami terpesona oleh jari-jemarinya yang lentik.

”Dengan kemampuan komunikasi yang bagus, otomatis dalam tim kerja akan terbentuk rasa kekeluargaan dan rasa memiliki. Kita juga musti memandang bahwa para karyawan adalah bagian dari tim, bukan sebagai bawahan. Dengan cara ini, bisa diharapkan munculnya fleksibilitas dari masing-masing anggota tim.” imbuhnya. Tidak heran jika anggota tim kerja Coreta merasa bahwa pekerjaan yang mereka lakukan bukan sebagai suatu keterpaksaan melainkan sebuah tanggung jawab.

“Sebagai perempuan, bukan berarti kita harus diam dirumah, kodrat perempuan tetap bisa dipegang dan perbedaan gender bukanlah suatu halangan untuk berkiprah, berprestasi dan berkontribusi.” ucapnya sembari membenahi syal kuning yang masih melingkar di leher jenjangnya. Apakah kamu kedinginan, Coreta? Tetapi kalimat ini jelas tidak kami tanyakan. Kami hanya terpesona dengan ciptaan Tuhan ini, sebuah kombinasi sempurna antara kecantikan, kepintaran dan kedewasaan.

Yah, waktu terus bergulir. Tidak terasa badai hujan di Jakarta sudah berlalu. Waktu kencan ini sudah lebih 1 jam dari yang direncanakan. Sayang, sebenarnya kami tidak ingin cepat-cepat mengakhiri kehangatan ini. Tetapi apa daya, si cantik Coreta sudah harus meluncur menuju kesibukannya yang lain.

Coreta, seandainya kamu…  (Dya & DanG )

Leadershiphttp://majalah.leadership-park.com (21 Okt 2008 20:08:14 GMT.)

Advertisements