Siapa tak ingin bisa dengan penuh percaya diri berbicara di depan umum. Ide dan pendapat bisa disampaikan dengan lancar dan lugas. Tapi, yang lebih sering, jangankan berbicara lancar seperti seorang presenter. Baru memegang mike pun keringat dingin sudah mengalir.

coreta interview news

GAYA BERBICARA BISA MENUNJANG

Vina (28 tahun) kerap dilanda dilemma, sebagai seorang desainer interior, ia harus mampu mengutarakan ide cemerlang kepada klien. Sayangnya, Vina bukan orang yang luwes berhadapan dengan orang baru. Nyatanya, Vina tak sendiri, banyak yang terpaksa mundur karena memiliki problem berbicara di depan umum. Pemicu mendasar bisa jadi karena kepribadian tergolong pendiam. Menurut Coreta L. Kapoyos, Instruktur John Robert Powers, kemampuan berbicara di depan umum (public speaking) sebetulnya merupakan bentuk seni.

Yuni Lasti, konsultan Experd, menambahkan, kemampuan public speaking adalah kunci utama keberhasilan karier. 3 hal harus diperhatikan dalam public speaking, visual (58%), vocal (3%), dan verbal (7%). Bentuk faktor visual, yang terlihat ketika orang berbicara. Tak sekadar yang keluar dari bibir, termasuk penampilan hingga sikap. Ia menegaskan, memahami lawan bicara dapat memudahkan untuk tahu tata bicara yang harus ditampilkan.

Sementara itu, segi vocal dapat membantu menarik perhatian lawan bicara. Dengan pengungkapan tepat, baik isi pembicaraan maupun intonasi suara, tentunya lawan bicara tak mudah merasa bosan saat mendengarkan.

Faktor verbal, mencakupi isi pembicaraan yang dilontarkan, termasuk pilihan kata dan kreativitas peyampaian pesan. Penting untuk mengenali lingkungan audience, mulai dari lokasi, level jabatan, topik pembicaraan, hingga tujuan akhirnya. Verbal perlu diperhatikan karena tidak semua orang bisa menerima tata cara penyampaian kita.

LATIH & MAKSIMALKAN

Pada dasarnya, definisi publik harus dipelajari dahulu agar tak salah kaprah. Publik kerap dikategorikan orang ‘umum’, bukan siapa-siapa. Akhirnya, akibat rasa percaya diri berlebihan, tendensi yang muncul jadi meremehkan.

Namun, percaya diri terlalu rendah juga memberi arti lain. Publik justru jadi sesuatu yang mengkhawatirkan atau menakutkan. Akhirnya, ketika tampil di depan sejumlah orang, pembicara langsung gugup dan enggan berbicara.

Komunikasi sendiri memiliki beberapa jenis, di antaranya komunikasi intrapersonal (berbicara dengan diri sendiri), komunikasi interpersonal (antara dua orang), dan komunikasi grup atau general (yang dikenal dengan public speaking). Nah, dalam berkarir, sebetulnya meski hanya berbicara dengan dua atau tiga orang, kita sudah harus mempelajari cara berbicara, karena situasi tersebut sudah tergolong bicara di depan ‘umum’.

Bagi yang mampu, kemampuan public speaking bisa didapat dengan learning by doing, memerhatikan dan mempelajari cara atasan kita berbicara. Tapi, pelatihan secara khusus juga banyak memberikan manfaat. Coreta menyatakan bahwa menggabungkan learning by doing dengan sistem pelatihan khusus sangat efisien. Sehingga tak sekadar mencontoh dari lingkungan sekitar, tapi betul-betul memahami teknik dan ilmunya.

Kemampuan berbicara dengan baik, jika dibarengi dengan tatapan mata yang sinis tentunya akan menjadi tidak menyenangkan. Karena, inner beauty juga berbicara. Meski tak berwajah cantik, jika gaya bicara menyenangkan, pasti menarik untuk disimak. Dengan kemampuan public speaking, maka pembicaraan kita akan nyambung dan sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Pengetahuan yang dimiliki dengan sendirinya akan terlihat. Brain, beauty, behavior tentunya tak kalah penting, tapi dengan public speaking, kita dapat menyesuaikan diri dalam berbicara. Tentunya hal ini begitu berpengaruh terhadap kelangsungan karier. Bayangkan saja jika ide yang ada tak mampu tersampaikan hanya karena ‘demam panggung’, tentu sayang sekali.*

www.femina-online.com

Advertisements