Deras hujan sore itu memaksa kami untuk menikmati jalan ibukota yang selalu macet. Tetapi kemacetan sore itu seakan bukan halangan bagi kami. Ada satu alasan kuat yang membuat kami tetap bertahan menembus kemacetan. Mobil kami arahkan ke suatu kawasan elit di daerah Jakarta Selatan, di sebuah lounge. Kencan kami sore itu disepakati disana. Di suatu tempat eksklusif, dimana para eksekutif banyak meluangkan waktu setelah seharian beraktifitas.

Memang perjuangan sore itu membuahkan hasil. Ketika memasuki lantai atas di lounge itu, sebuah senyuman hangat menyambut kami. Senyuman yang datang dari perempuan cantik yang kali ini kita pilih sebagai sosok leader nan exotic. Matanya berbinar ceria dari parasnya yang telah bersabar menunggu kedatangan kami. Paras itu seketika menghapus udara dingin yang menyerang tubuh.

coreta lightCoreta, demikian ia memperkenalkan diri. Ya, sebuah nama yang unik. Nama yang pas untuk pemilik raut wajah anggun dan menyajikan keramahan. Lesung pipitnya terukir jelita mengiringi senyumnya yang terkembang, anugerah dari dewa yang telah berbaik hati memberinya keindahan dan kecintaan. Dengan suaranya yang khas ia memaparkan sebagian dari cerita karir hidupnya.

Mengawali dunia broadcasting pada tahun 1988, Coreta kini adalah salah satu presenter dan penyiar senior di stasiun TVRI Nasional. Perempuan energik ini seakan tidak kenal lelah dan tidak ada istilah capek dalam kamus hidupnya. Bahkan, pada waktu kencan kami sore itu, perempuan cantik ini baru saja mendarat setelah 2 jam terbang dari Pekanbaru.

Memang, selain menjadi penyiar, Ia menghabiskan waktu senggangnya menerima permintaan menjadi presenter dibanyak tempat. Hampir sepertiga negeri ini seakan telah mengetahui kemampuan MC-nya. Si cantik ini dianugerahi kombinasi sempurna antara kecantikan, keanggunan dan kemampuan. Hmm, tidak heran bila banyak mata mencuri pandang kearahnya.

Sambil membenahi syal yang melingkar di leher jenjangnya yang putih memikat, ia meneruskan kisahnya. “Bergaul dengan orang-orang lain, adalah tantangan yang harus dihadapi dengan penuh semangat,”  begitu jelasnya ketika kami ingin tahu apa yang memotivasi dirinya sehingga selalu tampil energik.

“Kita hidup bersama orang-orang lain, kita bukan individu yang hidup untuk diri kita sendiri. Tetapi kita ada karena orang lain, maka kita perlu baktikan keberadaan kita untuk orang lain. Inilah yang membuat dunia ini indah.” Imbuhnya dengan mempertontonkan deretan giginya yang rapih dan terawat. Hmm, sebuah filosofi kehidupan yang pantas terucap dari bibir tipis yang menawan ini.

TVRI

“Coreta, apakah kamu termasuk golongan metropolis yang workaholic?” Sepertinya jika pertanyaan ini benar-benar kami lontarkan, akan membuat kami tampak konyol. Soalnya, ketika hampir saja kami lemparkan pertanyaan itu, perempuan elok ini sudah bergegas  bicara bahwa ia menjadi penuh gairah bila berhadapan dengan tantangan pekerjaan.

Tidak hanya presenter on air show, tetapi juga si cantik ini juga memiliki sebuah production house. Viseta production, atau Vispro, begitu sebutnya. Sembari mengerlingkan bola matanya yang bulat Coreta menjelaskan kalau ini adalah aktualisasi dari salah satu cita-citanya, yaitu kontribusi bagi anak bangsa dan negara ini melalui tayangan program-program televisi yang mendidik, bukan sekedar hiburan. Sebagai senior yang bergelut di dunia penyiaran, Coreta termasuk orang yang peduli akan kurangnya mutu edukasi penyiaran belakangan ini.

Dengan perannya di Production House (PH) ini, kemampuannya sebagai leader sangat diperlukan. Menurut perempuan kelahiran Minahasa ini, stereotype dimana pemimpin laki-laki lebih unggul daripada perempuan tidaklah sepaham dengannya. “Ya memang cara kerja laki-laki yang lebih sering menggunakan logika terkesan lebih kuat dibandingkan dengan cara wanita yang kerap kali lebih sering menggunakan perasaan, namun hal itulah yang tidak dimiliki oleh para pemimpin laki-laki bahwasanya dengan menggunakan perasaan maka para pemimpin wanita biasanya lebih bijak dalam mengambil sebuah keputusan dan lebih mudah dekat dengan tim kerjanya,” imbuhnya.

Apa yang membangkitkan hasratmu Coreta? Mengapa kamu tidak mudah lelah? Apa lagi yang ingin kamu reguk dalam kehidupan ini? ”Dunia pendidikan!” Perempuan cantik ini selalu bersemangat kalau bicara mengenai pendidikan. Dan hasrat Coreta semakin menguat ketika ia memperhatikan kualitas SDM anak bangsa Indonesia. Dalam pandangan umum, kebanyakan kualitas SDM bangsa ini memiliki pengetahuan terbatas ketika lulus sekolah sehingga susah diserap oleh dunia kerja. Itu barangkali yang juga menjadi concern Coreta. Maka tidak heran jika hasrat yang menggelora ini ia tuntaskan dengan profesinya yang lain yaitu sebagai pengajar di salah satu sekolah kepribadian John Robert Powers (JRP).

Baginya mengajar bukan sekedar hobby dan profesi yang menyenangkan. Tetapi bagi Coreta ini adalah sebuah pengabdian. “Dengan mengajar, saya dapat merasakan kepuasan. Ketika ilmu yang saya bagikan bermanfaat bagi orang lain, ketika anak didik menjadi lebih berkembang. Itulah yang utama.” ujar mantan Putri Kampus Sulawesi Utara tahun 1987 ini.

Coreta, bila kamu menggeluti dunia broadcasting, sebagai penyiar, sebagai MC, sebagai pemimpin production house, kemampuan apa yang setidaknya harus kamu kuasai? ”Yang utama adalah kemampuan komunikasi. Komunikasi adalah sebuah cara untuk menyelesaikan suatu masalah. Dan komunikasi adalah satu-satunya cara bagi setiap manusia untuk memberikan kontribusinya bagi kehidupan.” begitu katanya, sembari menekuk jari telunjuk dan jempolnya membentuk huruf C. Upps,  semoga ia tidak memergoki mata kami terpesona oleh jari-jemarinya yang lentik.

”Dengan kemampuan komunikasi yang bagus, otomatis dalam tim kerja akan terbentuk rasa kekeluargaan dan rasa memiliki. Kita juga musti memandang bahwa para karyawan adalah bagian dari tim, bukan sebagai bawahan. Dengan cara ini, bisa diharapkan munculnya fleksibilitas dari masing-masing anggota tim.” imbuhnya. Tidak heran jika anggota tim kerja Coreta merasa bahwa pekerjaan yang mereka lakukan bukan sebagai suatu keterpaksaan melainkan sebuah tanggung jawab.

“Sebagai perempuan, bukan berarti kita harus diam dirumah, kodrat perempuan tetap bisa dipegang dan perbedaan gender bukanlah suatu halangan untuk berkiprah, berprestasi dan berkontribusi.” ucapnya sembari membenahi syal kuning yang masih melingkar di leher jenjangnya. Apakah kamu kedinginan, Coreta? Tetapi kalimat ini jelas tidak kami tanyakan. Kami hanya terpesona dengan ciptaan Tuhan ini, sebuah kombinasi sempurna antara kecantikan, kepintaran dan kedewasaan.

Yah, waktu terus bergulir. Tidak terasa badai hujan di Jakarta sudah berlalu. Waktu kencan ini sudah lebih 1 jam dari yang direncanakan. Sayang, sebenarnya kami tidak ingin cepat-cepat mengakhiri kehangatan ini. Tetapi apa daya, si cantik Coreta sudah harus meluncur menuju kesibukannya yang lain.

Coreta, seandainya kamu…  (Dya & DanG )

Leadershiphttp://majalah.leadership-park.com (21 Okt 2008 20:08:14 GMT.)

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajak warga Jakarta untuk menjadikan ibu kota sebagai contoh keberhasilan mengelola perubahan dan keberlangsungan.

Dalam pidatonya pada peresmian pembukaan Pekan Raya Jakarta ke-43 di Arena Pekan Raya Jakarta, Kemayoran, Kamis malam, Presden berharap di tengah perkembangan sangat pesat menjadi kota megapolitan, Jakarta tetap memelihara identitasnya yang khas dan unik.

Tidak hanya dibanggakan karena perkembangan dan kemajuan fisiknya, Kepala Negara juga berharap penduduk dan budaya membuat Jakarta menjadi kian nyaman sebagai tempat tinggal dan beraktivitas bagi seluruh penghuninya.

“Oleh karena itu di hari ulang tahun kota ini saya mengajak warga Jakarta untuk menjadikan Jakarta sebagai contoh keberhasilan mengelola perubahan dan keberlangsungan, `change dan continuity`,” ujarnya.

Presiden pun mengajak semua warga Jakarta untuk membudayakan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan melalui penghematan penggunaan energi dan pemanfaatan sistem transportasi yang lebih efisien dan bebas polusi.

Kepala Negara juga mengajak warga Jakarta untuk mendaurulang limbah dan sampah di wilayah ibukota dengan cara-cara yang lebih bersahabat kepada pelestarian lingkungan.

“Mari kita lanjutkan upaya kolektif kita untuk mengurangi dampak pemanasan global dengan antara lain terus mengampanyekan penanaman dan pemeliharaan pohon,” ujarnya.

Sumber: http://www.antaranews.com

Empat Presenter Muda Dari TVRI Yang Kian Laris

KabarIndonesia – Profesi presenter kian menjanjikan. Merebaknya tayangan infotainment dan berbagai program talk show di televisi menjadikan profesi ini makin diminati banyak kalangan termasuk selebriti. Tak heran jika wajah-wajah presenter muda makin seringkali tampil di layar kaca dengan honor yang kabarnya cukup fantastik, mencapai Rp 10 – Rp 25 juta per episode.

Di tengah persaingan cukup ketat di dunia hiburan, profesi yang tak hanya mengandalkan kepandaian cuap-cuap ini kini ‘dikuasai’ beberapa nama anak-anak muda seperti Coreta Kapoyos, Wardahnia, Marsulina Sihombing dan Dewa Pradnyana.

Keempat presenter muda yang seringkali tampil di berbagai program acara Televisi Republik Indonesia (TVRI) ini disebut-sebut sebagai presenter paling laris. Semakin banyaknya televisi swasta maupun lokal yang bermunculan di Tanah Air membuat industri penyiaran ini membutuhkan tenaga andal yang siap pakai dan kompeten. Termasuk kebutuhan akan presenter atau pembawa acara yang akhirnya membuat profesi ini menjadi impian banyak orang.

Kini impian banyak orang untuk tampil di depan layar tentu tak hanya sekadar mimpi. Sebab sekolah presenter sudah dapat menjawab kebutuhan mereka yang berminat mencari peruntungan di dunia penyiaran. Kendati demikian, agar seorang presenter semakin mampu malang melintang di dunia pertelevisian, ada beberapa langkah yang harus dilakukan.

Coreta, demikian ia memperkenalkan diri. Ya, sebuah nama yang unik. Nama yang pas untuk pemilik raut wajah anggun dan menyajikan keramahan. Lesung pipitnya terukir jelita mengiringi senyumnya yang terkembang, anugerah dari dewa yang telah berbaik hati memberinya keindahan dan kecintaan. Dengan suaranya yang khas ia memaparkan sebagian dari cerita karir hidupnya. Mengawali dunia broadcasting pada tahun 1988, Coreta kini adalah salah satu presenter dan penyiar senior di stasiun TVRI Nasional. Perempuan energik ini seakan tidak kenal lelah dan tidak ada istilah capek dalam kamus hidupnya.

Memang, selain menjadi penyiar, Ia menghabiskan waktu senggangnya menerima permintaan menjadi presenter dibanyak tempat. Hampir sepertiga negeri ini seakan telah mengetahui kemampuan MC-nya. Si cantik ini dianugerahi kombinasi sempurna antara kecantikan, keanggunan dan kemampuan. Hmm, tidak heran bila banyak mata mencuri pandang kearahnya. Coreta Kapoyos wanita kelahiran Manado, Sulawesi Utara mengawali kariernya sebagai seorang reporter itu membagikan kiat suksesnya menjadi seorang presenter.

1. Mengikuti perkembangan isu Seorang presenter harus selalu mengikuti perkembangan isu yang sedang beredar di sekitarnya. Langkah ini tentu dilakukan dengan tujuan agar mereka dapat nyambung dalam setiap topik pembicaraan, sehingga terjalin komunikasi dua arah dan tidak hanya berdiam diri saja.

2. Penguasaan lapangan atau studio Sebaiknya sebagai calon presenter muda dan berbakat, jangan hanya terpaku pada studio televisi. Anda pun dapat menjadikan studio sebagai rumah dengan narasumber diibaratkan sebagai seorang ‘tamu’. Sehingga Anda harus menjamunya dan mencari informasi sedalam-dalamnya mengenai berita yang ingin digali lebih dalam. Selain itu agar hasil yang Anda peroleh dapat maksimal.

3. Jangan panik Kadang saat sedang berada di depan kamera, seorang pembawa acara sering grogi dan panik. Hal seperti ini yang seharusnya dihindari oleh setiap calon presenter. Sebab saat rasa grogi menghinggap diri dapat mambuat segala sesuatunya menjadi kacau, sehingga menimbulkan kesalahan yang tidak diinginkan. Namun bila rasa grogi ini muncul, tak perlu takut, cukup akui kesalahan Anda dan cobalah untuk tetap tenang dan melanjutkan pembicaraan.

4. Pintar membaca situasi Bila terjadi perubahan situasi di lapangan atau studio, maka seorang presenter harus pintar membaca situasi. Tentu langkah ini dapat dilakukan dengan cara menyesuaikan diri dalam berbagai kondisi, jangan sampai sikap panik meliputi diri. Oleh karena itu tetap fokuskan pikiran dan ajukan pertanyaan terkait peristiwa yang sedang terjadi.

5. Belajar dari pengalaman Seorang pembawa acara tidak akan pernah menjadi presenter sukses dan andal jika dia tidak pernah belajar dari pengalamannya. Karena tanpa belajar dari pengalaman, maka Anda tidak akan bisa maju ke tingkat berikutnya. Selain itu dengan belajar tentu akan semakin mengasah kemampuan yang dimiliki agar menjadi lebih baik.

Untuk diketahui, Coreta Kapoyos bukanlah pemain baru yang hanya berpengalaman seumur jagung. Namun alumni Fakultas Ekonomi Universitas Samratulangi, Manado ini telah malang melintang di dunia pertelevisian. (Amien Palu)

Sosok
“Kartini Masa Kini”

MENYEBUT nama Coreta Kapoyos, pasti Anda langsung mengingat ‘Dunia Dalam Berita’ salah satu program news di Televisi Republik Indonesia (TVRI). Maklum wanita manis yang punya aktifitas “seabrek” ini menjadi presenter beberapa program di televisi milik pemerintah itu. Berpapasan dengan Hari Kartini yang jatuh Selasa (21/4) kemarin, wanita yang mengaku workahoholic dan shopaholic ini menjadi public speaking dalam seminar Ikatan Sekretaris Indonesia (ISI) Sulut di Swiss-belHotel Maleosan.

Presenter TVRI pusat yang juga punya bisnis Event Orginizer (EO) dan Promotion House (PH) ini, membawakan materi komunikasi efektif. “Kartini-kartini masa kini harus memahami komunikasi. Karena komunikasi itu sangat efektif. Anda menguasai komunikasi, Anda menguasai dunia,” kata penggemar musik berirama Jazz, Pop, R n B.

Instruktut/fasilitator John Robert Powers ini menambahkan, kaum perempuan harus terus mengasah kemampuan yang dimiliki saat ini. “Emansipasi itu bukan berarti kita lebih tinggi dari kaum laki-laki. Tetapi bagaimana kita kaum perempuan dan kaum laki-laki bisa sejajar untuk sama-sama membangun daerah dan bangsa kita,” tandas keke Manado yang juga Komisaris Utama Viseta Global Utama. *(hesty)

coreta kartini cs

http://mdopost.com
April 22, 2009 at 11:20 AM

Coreta Kapojos

DI era 88 nama dan wajah Coreta Kapojos sudah tak asing lagi bagi warga Manado. Ya..Ibu tiga anak ini di tahun 1988 banyak diidolakan masyarakat lantaran kepiawaiannya membawa berita di TVRI Manado dan presenter diberbagai acara.

Namun lantaran ingin mengembangkan karir dan mengikuti keluarga terpaksa Coreta hijrah ke Jakarta.’’Dan sampai saat ini tetap bekerja di TVRI tapi di Jakarta.

Ya..dunia presenter khususnya di News memang sudah tak lepas dari aku. Jadi untuk melepaskannya rasanya sulit,’’ujar mama dari Viar, Bobby dan Vita. (art)

Feb 06, 2009 at 09:36 AM

http://www.mdopost.com/

Coreta oo Studio TVRI

‘Rambo’ Sang Pemimpin Yaki

Macaca Nigra

Hari masih pagi, sinar matahari menusuk malu-malu diantara dedaunan, menembus hingga hamparan daun yang jatuh ke tanah. Secara bersamaan, sebuah bayangan hitam meluncur turun diantara pepohonan, mendarat mulus di tanah, persis dimana sinar matahari pagi menyebar. Bayangan hitam tadi adalah Monyet. Bahasa setempat (atau umumnya orang Manado) menyebutnya Yaki.

SELAMA dua hari, Tim Ekspedisi NSPN, menelusuri kehidupan Yaki (Macaca Nigra), salah satu penghuni wilayah Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Tangkoko-Duasudara.

Areal ini, terbentang seluas kurang lebih 8.000 hektar, terletak di kecamatan Bitung Utara, kota Bitung, Sulawesi Utara. Hasil penelusurannya, disajikan disini

Yaki tadi, bukannya ilang jalang (kesasar) di pagi hari. Dia ”diutus” sang pemimpin, untuk memantau situasi di wilayah teritorial mereka mencari makan. ”Disini, terdapat dua kelompok yaki, dengan wilayahnya masing-masing. Kelompok pertama, kami sebut Malonda, dan kelompok kedua adalah yang dipimpin Rambo,” ujar Embo, Jagawana KSDA Tangkoko-Duasudara.

Menurutnya, kelompok Malonda sudah menurun drastis jumlahnya. Yang banyak berkeliaran sekarang adalah berasal dari kelompok Rambo, sekitar 40 hingga 60 ekor. Nah, si ’pemantau’ tadi, berasal dari kelompok Rambo. Setelah melihat keadaan aman, dengan satu teriakan ’sandi,’ bermunculan banyak Yaki di Pos 1. KSDA Tangkoko-Duasudara.

”Yang paling besar dan berjalan didepan, itu yang namanya Rambo. Disampingnya, ’asisten’ spesial pencicip makanan. Dia akan mencicipi makanan, sebelum Rambo memakannya,” tukas Embo lagi.

Dijelaskan, dalam setiap kelompok Yaki—termasuk grup Rambo—terdapat beberapa ekor dengan spesialis mereka masing-masing. Pengintai, pemantau dan pengamanan teritorial serta pencicip.

Sebagai seorang pemimpin, Rambo mendapatkan hak istimewa untuk pertama kali memakan temuan buah-buahan, tentunya setelah dicicipi si spesialis. Setelah Rambo, kaum betina dan bayi Yaki, mendapatkan kesempatan sesudahnya.

Hak istimewa Rambo mendapatkan makanan dan memilih jodoh, sebanding dengan tugasnya, ketika wilayah teritorial mereka didatangin kelompok lain. Rambo juga yang pertama berada digaris paling depan untuk menantang pemimpin kelompok ‘agresor’.

Terkadang, perkelahian antar sesama pimpinan kelompok ini, berakhir hingga tetes darah penghabisan. Yaki atau Macaca Nigra termasuk diantara monyet Sulawesi paling besar.

Berat badan Yaki berbeda antara Jantan dan Betina. Jantan dapat mencapai 11 kilogram, sedang betinanya hanya sekitar 7 kilogram. Bulu Yaki yang hitam legam dan mengkilap, kontras dengan bantalan kulit di pantat, berwarna merah muda, masyarakat setempat menyebut bantalan merah muda ini dengan lutok.

Penampilan mencolok lainnya dari Yaki, adalah gaya rambut seperti suku Indian Mohawk. Sebenarnya ini lebih tepat sebuah jambul, memanjang dari depan hingga ke pangkal batok kepalanya. Yaki umumnya hampir menghabiskan waktu beraktifitas mereka dengan mencari makanan.

”Tujuhpuluh persen makanan mereka adalah buah-buahan. Selain itu mereka juga makan serangga.” Yaki amat pintar meyimpan cadangan makanan mereka. Tempat penyimpanannya berada di kantong khusus dipipi. Selagi berjalan, mereka mengeluarkan makanan dari kantong tadi dan mengunyahnya.

Dalam buku, Sulawesi Utara, Sebuah Panduan Sejarah Alam, Margareth F. Kinnaird menulis, cara makan Yaki yang mengunyah sambil berjalan ini, berperan besar dalam regenerasi hutan dan pepohonan. Sebabnya, biji dari buah-buahan yang dikunyah, dibuang diareal hutan yang menjadi wilayah operasi mereka.

Kawanan Yaki biasanya berpindah-pindah sejauh 0,5 kilometer hingga empat kilometer setiap harinya. ”Sebelumnya, kawanan Yaki disini dapat mencapai seratus ekor per kelompok. Tapi, makin lama berkurang karena banyak pemburu liar, yang memanfaatkan daging mereka untuk dimakan atau dijual ke pasar,” ungkap para Jagawana.

Penelitian Margareth F. Kinnaird, menguatkan apa yang dikatakan para Jagawana. Menurutnya, KSDA Tangkoko-Duasudara, merupakan benteng pertahanan terakhir Yaki hitam spesies Macaca Nigra di Sulawesi Utara.

”Populasi Yaki di Tangkoko mengalami penurunan sekitar 75% sejak tahun 1979. Ini diakibatkan karena perburuan liar dan pengrusakan habitat mereka,” tulis Kinnaird.

Sayang, jika Macaca Nigra spesies langkah yang merupakan aset alam Sulawesi Utara, punah begitu saja. Mungkin nanti, para turis mancanegara tidak pernah akan melihat lagi Jambul di batok kepala dan Lutok dibagian pantat Yaki… [hery inyo rm]

http://northsulawesipressnetwork.blogspot.com/

Akbar Siaran Langsung di TVRI

Jakarta – Terkait pilpres 2009, media massa kian gencar menyoroti kandidat capres dan cawapres. Salah satu tokoh politik nasional yang jadi incaran adalah Akbar Tandjung. Politikus yang terkenal piawai dan mampu bertahan pada beberapa periode kepresidenan itu diwawancarai secara khusus oleh TVRI. Dipandu oleh penyiar Coreta Kapoyos, dalam program Informasi Seputar Parlemen, Rabu (07/04) pukul 17:30 WIB, Akbar menolak dikotomi calon pemimpin muda dan tua.

Coreta membuka pertanyaan soal maraknya iklan para tokoh nasional di media. Menanggapi hal tersebut Akbar menilainya sebagai hal yang wajar. “Sekarang sudah banyak iklan para tokoh di media massa,” katanya mencermati. Iklan tersebut akan bermanfaat menurut Akbar apabila mampu menyampaikan isi pikiran seorang tokoh. “Masyarakat baru mengenal sebatas wajah atau nama, belum mengenal pemikirannya,” ujarnya. Pengenalan pemikiran tersebut menjadi sangat penting karena dapat menjadi alasan dipilihnya seorang tokoh menjadi pemimpin.

Dalam konteks pilpres, lebih jauh Akbar mengatakan yang terpenting adalah bagaimana seorang calon pemimpin mampu menjelaskan visi dan misi kebangsaannya. “Seorang calon pemimpin harus bisa menyampaikan visi dan misinya terutama kepada rakyat yang akan dipimpinnya,” tegas mantan Ketua Umum DPP Partai Golkar ini. Dengan cara itulah kemudian rakyat akan melihat sejauh mana seseorang layak untuk dipilih.

Dikotomi Pemimpin Muda – Tua
Coreta melanjutkan pertanyaan mengenai trend kecenderungan terpilihnya kaum muda sebagai pemimpin pada pilkada, misalnya dalam pilkada Jawa Barat. “Jangan ada dikotomi antara calon pemimpin muda dan tua,” jawab Akbar. Dalam memilih pemimpin, baik tingkat daerah maupun nasional, tolok ukurnya bukan dari segi usia fisik. “Kriterianya yaitu kemampuan, keterampilan dan pengalaman,” jelasnya. Siapapun, menurut Akbar, tidak peduli tua atau muda asal memenuhi ketiga syarat tersebut maka layak dipilih menjadi pemimpin.

Soal masa kampanye pemilu legislatif yang memakan waktu sembilan bulan, Akbar mengingatkan agar energi bangsa tidak terkuras hanya untuk urusan kampanye dan pemilu. “Masih banyak persoalan bangsa yang lebih penting dan harus jadi prioritas,” ujar Ketua Dewan Pembina Barindo itu.

Coreta juga menanyakan soal calon incumbent yang akan lebih diuntungkan karena masih menjabat. Selama ini, ada kekhawatiran bahwa calon incumbent akan memanfaatkan fasilitas negara demi kepentingan politiknya. “Pengawasan harus maksimal,” tegas Akbar. Ia melanjutkan bahwa aturan main yang jelas dan tegas dalam UU Pilpres harus ditegakkan. Masyarakat juga diminta untuk melaporkan jika terjadi penyimpangan. “Sudah ada mekanisme yang berlaku untuk itu,” tuturnya.

Terakhir, Coreta menanyakan kesiapan Akbar untuk dicalonkan sebagai capres atau cawapres pada pilpres tahun 2009. “Saya akan melihat perkembangan politik terakhir,” ujar Akbar. Bagi mantan Ketua Umum PB HMI itu kepentingan rakyat harus menjadi tujuan akhir. “Semua untuk kepentingan rakyat,” tutup Akbar.

http://www.bangakbar.com (Jumat, 09 Mei 2008 10:04:04)